Langsung ke konten utama

Pandangan Ipan Sang Kultivator Tahap Surgawi Soal DOB Luwu Raya: "Mimpi Basah Tanpa Legitimasi"

Ipan Sang Kultivator Tahap Surgawi yang ditemui di sela-sela kegiatan farming energi alam di Alam Bayangan Chi Tau Mao, Jumat (7/1).

LUWU (7/1) — Wacana pembentukan atau pemekaran Provinsi Luwu Raya kembali menjadi perbincangan publik di tengah berbagai dukungan politik dan aspirasi masyarakat yang terus disuarakan. Namun, tidak semua pihak memandang langkah tersebut sebagai agenda yang realistis untuk direalisasikan dalam waktu dekat.

Salah satu pandangan kritis datang dari Ipan yang dikenal sebagai Sang Kultivator Tahap Surgawi. Dalam keterangannya, ia menilai gagasan pemekaran provinsi tersebut masih jauh dari landasan legitimasi yang kuat.

Ia menyebut bahwa dorongan pemekaran yang muncul saat ini lebih bersifat simbolik dibandingkan berbasis kesiapan struktural. “Pemekaran Provinsi Luwu Raya saat ini hanyalah mimpi basah tanpa legitimasi,” ujarnya.

Menurutnya, pembentukan daerah otonomi baru memerlukan dasar hukum, kesiapan administratif, serta persetujuan pemerintah pusat yang jelas. Tanpa terpenuhinya aspek tersebut, wacana pemekaran berpotensi hanya menjadi retorika politik yang tidak menghasilkan perubahan konkret bagi masyarakat.

Ipan juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola wilayah yang sudah ada sebelum mendorong pembentukan entitas administratif baru. Ia menilai bahwa pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, serta kapasitas fiskal daerah harus menjadi prioritas utama.

Di sisi lain, berbagai elemen masyarakat dan sejumlah lembaga legislatif di kawasan Tana Luwu masih terus menyuarakan dukungan terhadap pemekaran provinsi sebagai langkah percepatan pembangunan kawasan. Aspirasi tersebut disampaikan melalui forum politik maupun aksi massa dalam beberapa waktu terakhir.

Perdebatan pandangan ini menunjukkan bahwa isu pemekaran Provinsi Luwu Raya tidak hanya menjadi agenda administratif, tetapi juga ruang diskursus publik yang melibatkan berbagai perspektif mengenai arah pembangunan dan tata kelola daerah di masa depan.* FLAMENGO

Postingan populer dari blog ini

Lirik Lagu Magonu Mawoku - Pamona Record

Gambar Ilustrasi - Freepik Magonu Mawoku - Pamona Record Kuendo endo kupangipika yore Polomi pidinya lionya ode magaya  Magonu mawoku Tumpunya baleku maramu Bemayali ri rayaku Kamanguranya mompau Bemayali ri rayaku Kamarunganya mompau Kuendo endo kupangipika yore Polomi pidinya lionya ode magaya Magomu mawoku Tupunya baleku maramu Pagonya mompasibaju Na'odeka wa'a ntau Pagonya mompasimbaju Na'odeka wa'a ntau Kuendo endo kupangipika yore Polomi pidinya lionya ode magaya Magonu mawoku Tumpunya baleku maramu Pokayorinya mongayu Mampaka mawo rayaka Pokayorinya mongayu Mampaka mawo rayaku Kuendo endo kupangipika yore Polomi pidinya lionya ode magaya Magomu mawoku Tupunya baleku maramu Pagonya ane marau Jama'ai kagayamu Pagonya ane marau Jama'ai kagayamu Kuendo endo kupangipika yore Polomi pidinya lionya ode magaya Magonu mawoku Tumpunya baleku maramu Ane njai ri podero Magayomo ri po'engko Ane njai ri podero Magayamo ri po'engko Kuendo endo kupangipika yore P...

Mahasiswa "Koboy Fisip" Diduga Palsukan Berkas Akhir Studi, Gegerkan FISIP Untad

Foto Ilustrasi - Gambar gratisan di Freepik yang dicomot redaksi Palu | Rakyat Sulawesi – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako (Untad) tengah digemparkan oleh kabar dugaan pemalsuan berkas penyelesaian studi yang melibatkan seorang mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi.  Mahasiswa yang dikenal dengan nama julukan “Koboy Fisip” tersebut diduga nekat memalsukan sejumlah dokumen administrasi sebagai syarat kelulusan. Insiden ini sontak memicu kegaduhan di lingkungan Gedung Dekanat FISIP Untad. Sejumlah pejabat kampus dikabarkan geram atas ulah mahasiswa yang dikenal ‘nambongo’ atau sering berulah tersebut.  Bahkan, Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi dilaporkan telah dipanggil langsung oleh Dekan FISIP Untad untuk memberikan klarifikasi terkait masalah ini. “Iyah kabarnya Ibu Kaprodi dipanggil Dekan tadi,” ujar salah satu mahasiswa yang enggan disebutkan namanya. “Memang nambongo memang dia itu, tapi mo diapa, temanku kasian,” timpal seorang...